Category Archives: Traveling

Tempat referensi tempat wisata Malang

Sepotong Afrika di Pulau Jawa

Berapa tahun Anda hidup di Indonesia? Tahukah Anda bahwa Indonesia punya keindahan alam yang luar biasa? Baluran contohnya, sebuah taman nasional yang faktanya merupakan dataran savana terluas di Pulau Jawa. Oleh karena itu, tempat ini mendapat julukan “Africa Van Java”.

Sebuah pengalaman yang tak terlupakan, ketika Kompeners berkunjung ke taman nasional ini. Bagaimana tidak? Ketika kami baru memasuki kawasan, kami disambut fauna langka seperti rusa yang berlarian, monyet liar yang bergelantungan, dan burung yang berwarna-warni, bahkan ada pula satwa banteng.

Image

Cantiknya ayam hutan yang sedang berjalan mencari makanan.

Image

Lebatnya hutan di TN Baluran tak jarang membuat satwa liar menjadikannya sebagai tempat tinggal.

Image

Monyet liar berkeliaran di dalam Taman Nasional Baluran.

Dikutip dari indonesia.travel, terdapat pepohonan khas Baluran yang mirip pohon pinang dan berbuah sekali seumur hidup sebanyak satu ton untuk kemudian mati. Pohon pilang yang berbatang putih dan rimbun, bila Anda mengamatinya secara seksama maka mirip pohon di film “Avatar” serta pohon bekol yang rindang mirip beringin dengan nuansa magis.

Hanya dengan kurang dari Rp 10.000, tiket masuk sudah bisa Anda dapatkan. Kawasan ini banyak diminati pengunjung untuk melakukan penelitian, pengamatan satwa, hingga wisata bahari yang pantainya masih sangat bersih. Maklum, diperlukan waktu sekitar 40 menit perjalanan menggunakan mobil dari pintu masuk Taman Nasional Baluran untuk mencapai pantai yang bernama Bama ini.

Image

Sekelompok mahasiswa sedang melakukan penelitian di Pantai Bama.

Image

Rindangnya pohon bakau di tepi Pantai Bama dilihat dari sebuah dermaga.

Image

Dataran rendah di dalam kawasan Taman Nasional Baluran dilihat dari menara pantau.

Image

Gunung Baluran, salah satu gunung yang sudah tidak aktif lagi.

Image

Hamparan savana di dalam Taman Nasional Baluran.

Image

Tengkorak banteng yang digantung digunakan sebagai hiasan.

Image

Banyaknya tengkorak banteng yang digantung di dalam Taman Nasional Baluran.

Taman Nasional ini terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Sedikit tips yang dapat kami bagi jika Anda ingin melakukan traveling ke Baluran, yakni jangan berpakaian terlalu tebal karena suhu di tempat ini bisa mencapai 34oC di siang hari. Hal penting lain yang harus Anda siapkan adalah makanan kecil dan air mineral. Hal ini penting untuk disiapkan mengingat jarangnya penjual yang menawarkan dagangan di dalam kawasan taman nasional ini.

Sedikit kisah lucu yang dapat kami ceritakan, yaitu saat siang hari kami kehabisan air mineral dan sangat kehausan. Bersamaan dengan itu, ada seorang sopir bus minta tumpangan  ke tempat busnya diparkir. Karena merasa kehausan, ditengah perjalanan kami sedikit menyindir pak sopir bus yang intinya meminta air mineral. “Tenang, adik-adik. Di bus saya nanti ada air galon banyak kok”, bincang pak sopir bus tiba-tiba. Alhamdulilah, kami berhasil mendapatkan sebotol air mineral yang kemudian dibagi delapan orang.

Kompeners yang berlibur di TN Baluran (dari kiri ke kanan): Rafles Vicar, Dion Muh,Ahmad Zainurrohim, Irtafa Masruri, Tri Budi, Eka Zulfa, Zakiyatun Nafsi, Yulvan Chairil.

Kompeners yang berlibur di TN Baluran (dari kiri ke kanan): Rafles Vicar, Dion Muh,Ahmad Zainurrohim, Irtafa Masruri, Tri Budi, Eka Zulfa, Zakiyatun Nafsi, Yulvan Chairil.

Air sangat berharga di tempat ini, maklum sejauh mata memandang hanyalah hamparan savana berlatar belakang gunung Baluran yang dapat kami lihat. Sebuah pengalaman yang sangat berharga, menyadarkan kami bahwa Indonesia adalah negara dengan alam yang luar biasa. (Yulvan Chairil)

Sipelot = Sip A Lot!

Keindahan pantai di Indonesia tidak dapat dipungkiri, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya akan perairan. Di Malang sendiri kita mengetahui ada beberapa pantai, seperti Balekambang, Sendang Biru, dan Ngliyep. Bagaimana dengan pantai Sipelot? Pernahkah anda mendengar nama pantai tersebut? Jika belum, kami akan berbagi sedikit cerita tentang ekspedisi kami mencapai pantai tersembunyi ini.

Tepatnya hari Selasa, tanggal 7 Desember 2010 kemarin, kami ber-9 menuju kesana. Sekitar pukul 10.00 kami berangkat dengan mengendarai motor. Perjalanan yang ditempuh untuk mencapai pantai ini cukup jauh, kurang lebih sekitar tiga setengah jam. Melewati wilayah Bululawang, Turen, Dampit, dan memasuki Tirtoyudo. Perjalanan dari desa Tirtoyudo menuju pantai mulai terasa jauh, sekitar dua jam. Desa ini jauh dari kota, di sepanjang jalannya yang naik-turun itu kami hanya melihat pepohonan rindang. Listrik pun masih sering mengalami pemadaman karena daerah ini cukup sulit untuk dijangkau. Sekitar pukul 12.30 kami sampai di pantai Sipelot.

Rasa lelah kami tertebus oleh pemandangan indah pantai ini, di sisi kanan kirinya terlihat hutan kehijauan yang menjulang tinggi. Pantainya pun masih bersih dan jernih. Obyek wisata ini sepertinya kurang dilirik dan diketahui karena medannya yang cukup jauh dan sulit. Nyatanya disini sangat sepi, hanya terlihat beberapa orang yang menikmati keindahan pantai ini. Ombaknya yang bergelombang indah membujuk kami untuk mendekat dan bermain dengannya. Rasa penat karena aktivitas sehari-hari seperti turut terseret ombak.

Disini juga terdapat warung-warung yang kecil yang sekedar menjual minuman atau makanan ringan. Mungkin karena pantai ini masih sepi sehingga belum banyak orang yang mencoba mencari rezeki disini. Retribusi untuk masuk ke pantai ini pun tidak ada. It’s free. Dan jangan khawatir kalau ingin mandi dan berganti baju, karena disediakan mushola kecil dan kamar mandi disini.

Hari semakin sore, sekitar pukul 17.00 kami menyudahi kegiatan ini. Perjalanan pulang dirasa lebih jauh. Desa Tirtoyudo di malam hari juga sangat gelap karena ada pemadaman listrik. Belum lagi hujan yang mengguyur deras menyebabkan jalanan licin, sehingga kami harus lebih berhati-hati. Kami sampai kembali di Malang pukul 21.00, memang sedikit molor dari perkiraan. Meskipun lelah, setidaknya setimpal dengan keindahan pantai Sipelot yang kami saksikan.

 

by : Masyitha Nur Shabrina