Polinema Hadapi Teknologisasi Peradaban dengan Kenduri Kebudayaan


Senin (12/10), Politeknik Negeri Malang (Polinema) menggelar acara Kenduri Kebudayaan yang bertempat di lapangan depan gedung AA Polinema. Acara dimulai pada pukul 20.45 WIB hingga pagi dini hari pukul 01.00 WIB. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) bekerjasama dengan UKM Kerohanian Islam Polinema (Rispol) menjadi panitia dalam acara tersebut yang bertemakan “TeknologisasiPeradaban”. Kenduri kebudayaan merupakan acara tahunan, pada kali ini mengundang Ainun Najib alias Cak Nun dan Maiyah Religi. Peserta yang menghadiri kegiatan ini sekitar 4600 orang mulai dari masyarakat se–Malang Raya, mahasiswa dari kampus sekitar Malang, dan wajib bagi mahasiswa baru Polinema. Bagi mahasiswa baru Polinema yang tidak hadirakan mendapat sanksi karena kehadiran dalam acara termasuk salah satu poin kehadiran dalam kegiatan mentoring keagamaan Polinema tahun 2015.

Materi yang disampaikan pada kegiatan malam itu disebut dengan ‘SinauBareng’ yang akan membahas tentang teknologisasi peradaban melalui paparan dari bunyi dan paparan dari kata. Melalui musik  yang dimainkan oleh Kiai Kanjeng, Cak  Nun menyampaikan bahwa, “Jangan sampai manusia menjadi bagian dari teknologi tetapi teknologilah yang menjadi bagian dari manusia”. “Dikarenakan, jika manusia menjadi bagian dari teknologi maka manusia lah yang diatur oleh teknologi.  Seharusnya manusialah yang mengatur teknologi sebab teknologilah yang menjadi bagian dari manusia. Selain itu, masa depan peradaban Indonesia adalah dimana Indonesia dapat menampung semua unsur dunia menjadi identitas diri secaraotentik”, jelas Cak Nun ketika memberikan materi maiyah religi.

Cak nun memberikan materi teknologisasi peradaban pada acara kenduri kebudayaan

Cak nun memberikan materi teknologisasi peradaban pada acara kenduri kebudayaan

Tujuan dari kenduri kebudayaan ini untuk menambah wawasan mengenai teknologi yang berpengaruh pada peradaban manusia dan bagaiman acara menanganinya. M. Kholis Imam Majid, selaku  ketua panitia Kenduri Kebudayaan dari BEM mengatakan, “Semoga tahun depan kegiatan ini dapat lebih berkembang, mulai dari pemateri pembanding yang lebih baik sehingga dapat menarik perhatian mahasiswa dan masyarakat”.

Selainitu, Jenar Mahesa yang merupakan anggota dari komunitas Maiyah yang hadir pada malam itu berharap, “Semoga kegiatan ini dapat terus berlangsung apapun halangannya”. “Kegiatan ini sudah cukup bagus tetapi sebaiknya jangan diadakan terlalu malam karena kebanyakan ada jam malam bagi mahasiswa”,imbuh Rika Utamidari program studiTeknik Telekomunikasi. (Novella)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s