Energi Terbarukan Solusi Masa Depan Energi Dunia


Seminar Nasional Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK) Politeknik Negeri Malang (Polinema) merupakan acara tahunan yang bertujuan mencari solusi energi terbarukan. “The Modern Way of Eco-Technological Process and Application for Renewable Energy” merupakan tema yang diusung untuk seminar tahun ini. Aula Pertamina Polinema dipilih sebagai tempat penyelenggaraan acara yang dihadiri 200 peserta dari kalangan mahasiswa dan umum. Energi dunia yang kini semakin sedikit memerlukan energi terbarukan sebagai penghemat bahan bakar fosil yang semakin berkurang jumlahnya.

Prof. Dr. Ir. Suprapto DEA menjawab pertanyaan dari peserta Seminar Nasional HMTK

Prof. Dr. Ir. Suprapto DEA menjawab pertanyaan dari peserta Seminar Nasional HMTK.

Roslinarmansyah dari HSE Manager PT. Haliburton Indonesia, Ir. Dedy Pudjianto dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Malang, dan Prof. Dr. Ir. Suprapto DEA Dosen Teknik Kimia dari ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) merupakan pemateri acara tersebut. Materi yang disampaikan adalah wawasan untuk mengembangkan inovasi peserta dalam penciptaan energi terbarukan bagi dunia.

Pengelolaan energi terbarukan yang ada maupun yang belum dikelola oleh manusia saat ini dibuat sebagai pemacu kreativitas peserta. Menurut Bapak Roslinarmansyah, semakin berkurangnya bahan bakar fosil yang ada saat ini seharusnya diseimbangkan dengan penemuan energi terbarukan. Di lain sisi, batu bara yang ada di Kalimantan hanya batu bara muda yang tidak laku dijual karena tegangan yang dikandungnya lebih rendah dari yang digunakan masyarakat. “Materi yang disampaikan sangat menarik dan menginspirasi bahwa di Indonesia banyak hal yang dapat dimanfaatkan sebagai energi terbarukan,” ungkap Novi salah satu peserta seminar tersebut.

Salah seorang peserta seminar nasional dari jurusan kimia Polinema bertanya kepada pemateri

Salah seorang peserta seminar nasional dari jurusan kimia Polinema bertanya kepada pemateri.

Penghijauan dan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) ramah lingkungan merupakan materi yang disampaikan oleh pemateri dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Hal tersebut dipicu karena semakin banyaknya TPA yang tidak dikelola dengan baik. Bapak Dedy Pudjianto menjelaskan bahwa dorongan untuk merealisasikan program tersebut sangat tinggi dari pemerintah namun tidak berbanding lurus dengan dukungan masyarakat luas. Terbukti dengan fasilitas dari pemerintah yang tidak digunakan sesuai fungsinya.

Pengolahan sampah yang telah dicanangkan oleh pemerintah sejak beberapa tahun lalu masih kurang maksimal. Sebagai contohnya, masyarakat kurang memahami pemilahan sampah. “Pemilahan sampah organik, anorganik dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) masih kurang dipahami masyarakat,” jelas Bapak Dedy Pudjianto. “Seharusnya sosialisasi mengenai hal tersebut bisa merata ke masyarakat luas,” imbuhnya.

Dinas Kebersihan dan Pertamanan telah mengolah sampah menjadi gas metan. Solusi yang ditawarkan oleh pihak pemerintah Kota Malang ini guna menanggulangi penumpukan sampah serta bau yang sangat mengganggu masyarakat. Hal lain yang disampaikan dalam acara ini yaitu Geotermal atau panas bumi dari magma yang selanjutnya disalurkan dan diolah menjadi energi terbarukan.  Salah satu pemanfaatannya yaitu digunakan untuk menggantikan bahan bakar pembangkit listrik. “Ada peringatan nasional yang menyebutkan bahwa cadangan energi dunia semakin menipis, sehingga energi terbarukan harus segera ditemukan,” ungkap Bapak Roslinarmansyah.

Prof. Dr. Ir. Suprapto DEA dosen Teknik Kimia ITS (Institut Sepuluh November) Memberikan materi "Garis-garis Besar tentang Energi Terbarukan"

Prof. Dr. Ir. Suprapto DEA dosen Teknik Kimia ITS (Institut Sepuluh November) Memberikan materi “Garis-garis Besar tentang Energi Terbarukan”.

“Saya harap banyak inovasi – inovasi baru tentang energi terbarukan yang akan bermafaat bagi masyarakat,” papar Mochammad Anwar Wildany selaku ketua pelaksana acara. Seharusnya banyak orang yang sadar akan perlunya energi terbarukan sehingga cadangan bahan bakar fosil yang ada dapat dihemat. “Harapan saya, seminar ini dapat dilaksanakan secara rutin,” ujar Arif salah satu mahasiswa Universitas Brawijaya. “Semoga ilmu yang dihasilkan di Indonesia dapat diolah dan dikembangkan untuk kemajuan masyarakat, bukannya dibawa ke USA dan menjadi hak mereka,” tambahnya.(Hendri Setya Budi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s