SEPENGGAL KISAH DARI NEGERI SINGA


Empat pekan berkesempatan menimba ilmu di Singapura, 18 orang mahasiswa Teknik Elektro Program Studi Manajemen Informatika dan Teknik Informatika Politeknik Negeri Malang akhirnya pulang ke Tanah Air, Jumat (11/04) lalu. Pada LPM Kompen, mereka membagi kisahnya selama berada di Negeri Singa, mulai dari membantu kaum jompo hingga bosan makan ayam hambar.

Image

Para mahasiswa dari Indonesia dan Singapura sedang berpose bersama di Republic Polytechnic of Singapura.

Raditya Hendrawan menerawang. Matanya berbinar dan senyum tipis tergambar diwajahnya. Dia nampak mengingat kenangan-kenangannya selama berada di Singapura.

“Senang sekali selama belajar disana. Kami diminta terjun langsung mencari masalah sosial disana dan menyelesaikan masalah tersebut dengan ide-ide kami sendiri,” dia membuka pembicaraan, pekan lalu.

Tak hanya bagi Radit –sapaan karib Raditya, pada Ido Ferdian –mahasiswa lain yang ikut ke Singapura- pengalaman selama di Negeri Singa tersebut membekaskan jejak di ingatan. Ihwal pengalamannya yang paling berkesan, Ido menyebut proses pengerjaan proyek Praktik Kerja Lapangan (PKL), bersama kelompoknya.

Bersama kelompoknya yang terdiri dari: Radit,Wendy,Teddy dan Naufal, Ido berkesempatan mengunjungi Evergreen Nursing Home. Di salah satu panti jompo di Singapura itu, mereka membuat alat ‘Speech Translation’ untuk membantu penghuni disana.

Sesuai namanya, alat ini berfungsi untuk menerjemahkan. Menggunakan Raspberry Pi –komputer mini yang dikolaborasikan dengan monitor- Speech Translation kreasi Ido dan kawan-kawan berfungsi menerjemahkan Bahasa Mandarin ke Bahasa Inggris.

Image

Raditya Hendrawan (tengah), salah satu Mahasiswa Politeknik Negeri Malang, sedang serius mengerjakan proyek Raspberry Pi.

“Latar belakang kami membuat alat ini adalah kesulitan para manula di panti itu dalam berkomunikasi. Mereka kebanyakan hanya bisa berbahasa Mandarin,” papar Ido. Karena warga Singapura banyak yang berbahasa Inggris dan bahasa ini adalah bahasa Internasional. Agar memudahkan mereka berkomunikasi dengan pengasuh dan pengunjung. “Kami sengaja menggunakan single board komputer ini untuk meminimalisir biaya. Di pasaran, harganya kurang lebih hanya Rp 500 – 600 ribu-an,” sambungnya.

Image

Komputer mini, Raspberry Pi, yang merupakan official project yang harus dikerjakan oleh para mahasiswa pertukaran pelajar.

Untuk menyelesaikan alat tersebut, kelompok beranggotakan lima orang ini mendapat jatah tiga hari. Dua hari pertama, mereka fokus mengerjakan alat penerjemah ini. Pada hari ketiga, mereka mempresentasikan kreasi mereka ini dihadapan perwakilan IDA (Infocomm Development Authority of Singapore), pengurus Evergreen Nursing Home, dosen Republic Polytechnic dan mahasiswa lainnya yang menjalani study exchange.

Proyek PKL ini sengaja didesain untuk langsung menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat. Hal ini sesuai dengan metode pendidikan Republic Polytechnic, tempat mereka belajar selama di Singapura, yang menggunakan Problem Based Learning. “Bedanya dengan pembelajaran di Indonesia, PBL ini lebih mempunyai alasan yang jelas. Karena siswa wajib memberikan solusi dari berbagai sudut pandang untuk menyelesaikan masalah nyata. Materi yang diberikan di Indonesia hanya sesuai kurikulum saja. Saya lebih suka PBL, tapi pembelajaran di Polinema seperti matakuliah QMS (Quality Management System) sudah mendekati metode PBL kok,” jelas Ido mahasiswa MI kelas 3D ini.

Image

Foto bersama setelah presentasi proyek Raspberry Pi dan pembagian sertifikat dari Program pertukaran pelajar program Tamasek Foundation Scale (9/4).

Empat pekan di Singapura tentu tak hanya dihabiskan untuk berkutat dengan persoalan akademik. Para mahasiswa pertukaran juga mendapat kesempatan menikmati obyek-obyek wisata yang ada di negeri yang dulunya bernama Temasek ini, termasuk China Town dan Arab Street.”Di sana, kami bermain Scavenger Hunt,” tutur Radit. Game ini dimainkan dengan cara memberi petunjuk pada masing-masing kelompok. Kemudian, mereka diminta menemukan tempat atau barang yang ditentukan.

Radit dan kawan-kawan juga sempat mencicipi serunya berkemah di Pulau Ubin. Di pulau yang berbentuk bumerang ini rombongan Polinema menginap semalam. Untuk mengisi waktu,  mereka mengadakan game carnival di Sport Complex. Pesertanya, anak-anak Singapura yang berasal dari perkampungan berpenghasilan di bawah rata-rata.

Image

Pembuatan Lukisan di Sport Hall Republic Polytechnic (10/4).

“Kami menyediakan berbagai hadiah untuk mereka,” tuturnya.

Mendapat kesempatan berkeliling negeri seluas 716 kilometer persegi tersebut, Radit mengaku kagum dengan sistem transportasi Singapura. Mahasiswa jurusan Teknik Informatika ini terpana dengan efektif dan efisiennya Mass Rapid Transit, yang menjadi tulang punggung transportasi Singapura. Salah satu bentuk efisiensi dan efektivitas adalah penggunaan kartu pintar bernama EZ-link Card.

“Tak perlu membayar dengan uang tunai, hanya memerlukan kartu khusus bernama EZ-link Card,” sambungnya.

Kartu EZ-Link adalah kartu e-money yang digunakan untuk pembayaran MRT, LRT, bus, dan beberapa gerai lainnya.  Di Indonesia, kartu ini sejenis dengan kartu BCA Flash atau Mandiri e-Toll Card. Cara menggunakannya adalah dengan men-tap (mendekatkan kartu) di dekat mesin. Harganya adalah $12, yang berisi uang $7. Sisanya sebesar $5 adalah harga kartu-nya yang tidak dapat dikembalikan.

Namun, sekagum-kagumnya Radit dengan Singapura, dia tetap merasakan ada yang kurang selama berada di sana. Apalagi kalau bukan urusan perut? Menurutnya, dia bosan dengan menu makanan di sana. “Tiap hari, kalau bukan ayam, pasti ikan. Rasanya hambar pula. Bosan,” keluh Radit.

“Selain itu, susah cari masjid di sini,” sambungnya.

Jamaknya pertukaran mahasiswa dari program Tamasek Foundation SCALE ini, pasti ada acara malam budaya. Dalam acara yang berlangsung di Cultural Center Republic Polytechnic tersebut, delegasi Polinema bersama rekan-rekan dari Politeknik Caltex Riau dan Politeknik Kota Malang mempersembahkan budaya Indonesia, mulai penampilan topeng Malang, batik, budaya Bali, hingga nyanyian dangdut.

Rizki Anggarsasi Suwandari salah satu penampil di malam budaya itu mengaku penampilan delegasi Indonesia mendapat sambutan hangat. Bahkan, saat mereka menampilkan tarian Poco-poco, sambutan kian heboh.”Tuan rumah dan delegasi Kamboja antusias mengikuti gerakan kami. Mereka juga berharap diajari tarian ini ketika nanti mereka ke Malang,” papar mahasiswi kelas 3A Teknik Informatika Polinema.

Image

Kunjungan industri ke Cisco, perusahaan global yang bergerak dalam bidang telekomunikasi (24/3).

Saat ini, Ido, Radit, Rizki dan kawan-kawan sudah kembali ke Indonesia. Mereka telah berkumpul dengan rekan-rekan dan keluarganya lagi. Namun, kini ada bagian dari Singapura yang menjadi bagian hati dan kenangan mereka.

“Banyak yang bisa dipelajari dari program ini. Semoga kesempatan seperti ini akan terus terbuka lebar,” harap Ido, mewakili rekan-rekannya. (zky)

(Sumber Foto: Republica Post)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s