Mahasiswa Teknik Sipil, Menuju Perkuliahan yang Ideal


Proses Perpindahan adalah puasa

Kata ‘pindah’ tidak harus selamanya memiliki makna konotasi yang buruk akan pengertiannya. Tergantung bagaimana menyikapi dan mencoba terbiasa dengan suasana yang baru. Namun untuk terbiasa dengan suatu hal baru merupakan kerja keras. Hal inilah yang tengah dilakukan oleh mahasiswa dan civitas akademik Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang.

Jika diamati akan tampak sebuah perubahan pada tempat perkuliahan mahasiswa Teknik Sipil. Perubahan dirasa membawa dampak yang signifikan dalam perkuliahan mereka, dikarenakan perpindahan dari kampus satu yang bertempat di Jalan Veteran menuju kampus dua yang berada di Jalan Sukarno Hatta.

Tahun ajaran baru kali ini berbeda dari beberapa tahun sebelumnya, mahasiswa yang berada di kampus satu yang terdiri dari teknik sipil dan teknik mesin harus bolak – balik dari kampus satu ke kampus dua atau sebaliknya untuk mengikuti proses kegiatan perkuliahan yang berlangsung. Tentunya ini menguras banyak tenaga, namun kondisi tidak memungkinkan adanya solusi lain. Seperti yang kita tahu bahwa, proses pembangunan yang dilakukan Politeknik Negeri Malang belum bisa dikatakan selesai.

“Dari segi fasilitas kurang, buktinya masih ada kelas yang disekat dan suasana kelas yang pengap. Tetapi kampus dua jauh lebih baik karena tidak terkesan kotor seperti kampus satu.” ujar Feri Katon mahasiswa D3 Teknik Sipil.

Dalam masa perpindahan ini, fasilitas yang tersedia sangat terbatas mengingat kondisi yang tersedia tidak memungkinkan meminta lebih. Proses perkuliahan yang terbagi dalam dua tempat berbeda yakni di kampus satu dan kampus dua. Pada kampus satu terdapat bengkel, sedangkan di kampus dua hanya tersedia ruangan untuk teori diantaranya adalah semua ruang di lantai 3 gedung AE yang biasa digunakan oleh mahasiswa Akuntansi dan Administrasi Niaga, 4 ruangan di gedung AG biasanya digunakan oleh Teknik Elektro, 2 ruang di gedung AF serta yang digunakan oleh mahasiswa Informatika, dan 2 ruang di baseman depan yang masih dalam proses pembangunan dan ditempati lahan parkir mahasiswa.

Kurangnya sarana dan prasarana memang mengurangi standar kenyamanan dalam proses perkuliahan mahasiswa.“Namanya perpindahan itu kan puasa ya? Tidak mungkin kita menunggu gedung di sini selesai baru kita pindah, kan kita juga ditunggu ya sama pihak sana atau Universitas Brawijaya,” ungkap bapak Susapto, DRS., MT. selaku kajur Teknik Sipil.

Kondisi sarana dan prasarana memang kurang memungkinkan atau kurang ideal untuk perkuliahan, bahkan bisa jadi sebuah kelas yang lebar harus dibagi menjadi dua demi mencukupi kekurangan kelas dan jam mengajar yang padat.

“Kita berusaha secepatnya, jadi kita mengusahakan kondisi tempat perkuliahan yang memadai dan ideal dengan perkuliahan di Politeknik Negeri Malang. Hanya saja kondisi saat ini kita harus berpuasa dulu. Tidak bisa kita memaksakan langsung ideal, karena terbentur dengan waktu,” ungkap Susapto, DRS.,MT. (dto,sin,dtl,ayu)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s