Terbukanya Mata Semangat dalam Kuliah Tamu Entrepreneurship


Bapak Rahmad (KPS RPL) mewakili sambutan dari Kajur Teknik Elektro yang berhalangan hadir

Bapak Rahmad (KPS RPL) mewakili sambutan dari Kajur Teknik Elektro yang berhalangan hadir

Salah satu agenda rutin Politeknik Negeri Malang Jurusan Elektro adalah kuliah tamu. Acara yang diadakan pada 22 Juni 2013 disambut antusias oleh para peserta yang terlihat tidak sabar memperoleh materi dari Faizal Surplus MBA dan Sakti sang Provokator. Kedua narasumber tersebut menarik mahasiswa-mahasiswi Politeknik Negeri Malang Program Studi D1 Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) dan Teknologi Informasi (TI) kala itu. Dimulai dengan perkenalan dari MC sekaligus perwakilan dari peserta dan sambutan dari ketua Program Studi RPL. Untuk mencairkan suasana MC mengawali kuliah tamu dengan mengajak peserta bermain uji fokus.

Gelak tawa menyusul kala pemateri pertama, Faizal Surplus MBA, memperkenalkan diri dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan terbilang gaul. “MBA itu bukan gelar kuliah di luar negeri, tapi Motivator Berwajah Arab,” ungkapnya dengan candaan. Wajah-wajah serius mulai menghias saat Bapak Fauzi menerangkan materi mengenai usia produktif dan tenaga kerja. Usia produktif adalah usia dimana seseorang masih mampu bekerja dan menghasilkan sesuatu, yaitu sekitar umur 15-64 tahun. Sedangkan tenaga kerja merupakan seluruh jumlah penduduk yang dianggap dapat bekerja dan sanggup bekerja jika tidak ada permintaan kerja.

Motivasi “mengenal yang sudah terkenal”, merupakan salah satu kunci wirausahawan/ti. “Jangan hanya consume, consume, consume, sampai lupa untuk produce,” jelas bapak yang sudah beristri dan memiliki satu anak ini. Beliau menambahkan ini masalah mengenai “Bukan kamu mengerti apa? Melainkan kamu bisa apa?” Berawal dari menawarkan jasa gratis sebagai bekal belajar menjadi interpreneur. “Tanggungjawab pada dirimu sendiri,” ujar Pak Faizal kala menjelaskan hal pertama kali yang harus dilakukan untuk menjadi pengusaha.

Pilihan karir dapat dimisalkan lingkaran terbagi tiga yaitu bekerja, berbisnis, dan nganggur. Kapan memilihnya? Saat pertanyaan itu dilontarkan kepada peserta, ada yang menjawab setelah lulus kuliah. “Sebenarnya, kedua pilihan itu sama bagusnya, selama anda jelas dalam memilihnya. You See, You Hear, and You Do,” sambung pria berusia 27 tahun ini.

Tepat pukul 13.00, MC memperkenalkan pemateri kedua yang juga seorang stand up comedy. Peserta pun tak kuat mehahan tawa saat motivasi-motivasi bebarengan dengan candaannya. “Seorang entrepreneur itu harus ramah dan murah senyum. Kenapa mereka selalu murah senyum? Karena anda tersenyum kepada orang lain, tidak ada alasan bagi orang tersebut untuk tidak tersenyum kepada anda,” ungkap pria yang pernah menjadi ketua himpunan di Universitas Brawijaya ini.

Sebelum acara selesai, Mas Sakti bertanya mengenai siapa saja yang sudah punya usaha? Beberapa peserta mengacungkan tangan. Ada yang mengaku punya usaha jual pulsa, jual aksesoris online, service laptop dan komputer, maupun bisnis distro. Tujuh orang maju kedepan untuk mendapatkan surprise. Ternyata ketujuh peserta itu diminta meniup balon sampai meletus. “Ketakutan itu datang dari diri sendiri. Itu yang menghambat kesuksesan. Jadi jangan takut untuk meniup balon itu selama kamu punya kemampuan untuk melakukannya,” pesan Mas Sakti. (zky, ris)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s