Polinema Unjuk Kemampuan di LoGRak Smart Green House 2012


Pada kompetisi edisi wahid dari LoGRak (Lomba Gagasan dan Rancangan Kreatif) Smart Green House yang diadakan oleh Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Malang pada hari Kamis, 26 April 2012, Tim dari Polinema hampir menyabet semua juara, antara lain juara 1, juara 3, dan juara favorit. Sedangkan juara 2 diambil oleh Universitas Indonesia.

Dalam suatu wawancara dengan tim yang berhasil meraih juara 1 dan terdiri dari Aryo adhi nugraha (tingkat 3 / program studi JTD), Dwi yani trisusanto (tingkat 3 / program studi JTD), Rifky dwi faradila (tingkat 3 / program studi JTD) dan Ika yunita utami (tingkat 3 / program studi Manajemen Informatika) menjelaskan mengenai konsep lombanya, yaitu setiap tim diwajibkan merancang model rumah pintar yang memadukan antara teknologi saat ini dan alam.

Setelah melakukan diskusi dan pencarian referensi ilmiah, akhirnya mereka membuat rancangan rumah pintar yang diberi nama Sun Dome Flexible Green House (SDFGH). “Konsep SDFGH atau Sun Dome Flexible Green House adalah perpaduan dari bidang teknologi yang saling mendukung untuk menciptakan sebuah konsep rumah sehat dan menggunakan energi alternatif serta didukung teknologi untuk meningkatkan kenyamanan pemiliknya. Konsep SDFGH punya empat pilar utama, yaitu : Sun Energy, Dome Construction, Flexible Control, dan Green Alga.” Terang Ika yunita.

Lebih jauh lagi mereka menjelaskan mengenai empat pilar utama,”Untuk sun energy, artinya kami menggunakan panel surya yang nantinya akan menyerap sinar matahari kemudian diubah menjadi energi listrik.”

“Mengapa harus dome construction? karena biar tahan gempa. Di jepang sudah banyak yang rumah yang menggunakan tipe dome. Tetapi di Indonesia masih belum ada. Untuk konstruksi pondasi sendiri menggunakan struktur pondasi bebas yang memiliki fungsi untuk menyalurkan gaya luar ataupun dalam secara merata disemua sisi bangunan. Konstruksi dome house ini dibungkus larutan oksidan yang dapat mengatasi asma, rinitis dan semua gejala sick-house syndrome dan chemical sensitivity syndrome. Dengan larutan antioksidan itu juga dapat menekan oksigen sehingga sirkulasi udara didalam rumah sangat bagus. Selain itu dome house bebas dari bahan kimia bahaya seperti flexiblemaldehid, pestisida, dan lain-lain. Selain meningkatkan kesehatan, dome house lebih tahan terhadap tekanan angin dikarenakan fungsi bentuk yang meneruskan aliran angin.” Terang mereka panjang lebar.

“Untuk flexible control, maksudnya adalah membuat rumah mampu secara otomatis melakukan perpindahan penggunaan sumber daya listrik dari baterai panel surya yang habis (ketika sinar matahari tidak mampu menyuplai dengan cukup) menjadi menggunakan energi PLN atau biodiesel. Juga siklus udara diluar ruang dan didalam ruang dikontrol sesuai logika fuzzy yang pada praktiknya menggunakan sensor. Sedangkan pilar keempat yaitu green alga yang dalam hal ini memakai jenis alga mikro adalah berfungsi sebagai bahan dasar biodiesel. Biodiesel digunakan dalam rancangan ini dimaksudkan sebagai tindakan preventif apabila energi dari panel surya tidak mampu memenuhi kebutuhan energi dalam satu rumah. Artinya, biodiesel bertindak sebagai energi cadangan. Dalam satu hektar, jika menggunakan jenis alga mikro, maka bisa menghasilkan 10ribu galon.” Kata Ika yunita yang merupakan mahasiswi asli Kota Malang.

Ketika ditanya mengenai pembagian kerja dalam tim, mereka menjelaskan,”Aryo sebagai ketua tim bertugas membuat animasi 3D yang diupdload di situs youtube.com atau lebih tepatnya cek : www.youtube.com/watch?v=IU2NFaNyPYk&feature=youtu.be , meneliti alga melalui jurnal ilmiah dan juga langsung ke peternak alga, sekaligus membuat perencanaan panel surya. Rifky kebagian bikin poster, analisa pembuangan sisa-sisa dalam rumah yang nanti disaring untuk menyirami alga. Untuk Dwi kebagian untuk analisis mengenai siklus udara diluar rumah dan didalam rumah menggunakan logika fuzy dengan tujuan agar suhunya seimbang. Sedangkan Ika sendiri bertugas membuat laman web dari SDFGH, halaman fanspage, dan semua hal yang berbau internet.”

Bagi mereka, kesulitan yang dialami selama kompetisi terletak pada saat presentasi. Dimana waktu yang diberikan hanya sedikit, tetapi pertanyaan dari juri sangat detail yaitu yang berkaitan dengan penggunaan alga hijau. Tetapi justru karena mereka merupakan satu-satunya tim yang memanfaatkan alam, malah membuat mereka berhak mengantongi juara 1 sekaligus membawa pulang uang tunai Rp 3.000.000,00

Pesan mereka terhadap rekan-rekan mahasiswa/mahasiswi yang lain jika ingin sukses seperti mereka dalam suatu kompetisi yaitu agar lebih proaktif mencari informasi lomba baik di dalam maupun di luar kampus. Setelah itu, ikuti dengan usaha dan do’a yang maksimal. Untuk urusan menang ataupun kalah adalah tidak masalah, karena yang terpenting adalah pengalaman yang didapat selama proses itu. Semoga saja makin banyak mahasiswa/mahasiswi lain yang bisa mempersembahkan penghargaan-penghargaan baik dibidang akademik atau non-akademik. Bravo Polinema! (rachmat wijaya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s