DIPAM 2011, Akankah Hasil ini Terealisasi di Tahun depan?


“Dengan Semangat, Kerjasama dan Konsistensi Semua Pihak Bersama-sama  Meningkatkan Profesionalisme Untuk Membangun Politeknik Negeri Malang”, inilah tema DIPAM tahun 2011 yang diselenggaran pada hari Rabu 01 Juni 2011 bertempat di Gedung Aula Pertamina Politeknik Negeri Malang.

Acara yang diselenggarakan pukul 07.00 WIB ini mengundang perwakilan tiap kelas dari tiap jurusan dan para undangan khususnya Direktur dan Pudir.

Sebelum masuk ke acara sesi tanya jawab, sambutan Direktur Polinema Bapak Tundung Subali Patma menyatakan bahwa “Seharusnya mahasiswa itu menanyakan tentang masalah akademik, beasiswa, dan yang mencakup seputar perkuliahan, bukannya malah menguak tentang parkiran, ban bocor, dan lain sebagainya. “ ucap bapak yang akrab dipanggil Pak Tundung ini.

Selain itu, Pak Tundung menyinggung tentang masalah tanya jawab yang akan dimulai, mulai dari perkataan yang sopan, tidak hanya menghormati, tetapi juga menghargai siapapun yang akan diajak berbicara.

Setelah acara dibuka dengan sambutan Ketua pelaksana, Presiden BEM, Perwakilan DPK, dan Direktur Polinema, kemudian dibacakan hasil DIPAM tahun 2010. Pembacaan DIPAM tahun 2010 yang membahas masalah Fasilitas, Pelayanan, Akademik, dan Birokrasi , kali ini juga dibahas lagi secara detail.

Fasilitas yang dibahas tahun lalu mengenai kotak saran, fasilitas olahraga, sarana & prasaran, kantin dan toilet. Kotak saran ini 70% kurang maksimal, dikarenakan tidak adanya respon ketika kita sudah memberi saran dikotak saran. Kemudian dengan Fasilitas olahraga, dirasakan kurang tepat guna, karena perijinannya yang sulit. Kemudian dari kantin, toilet juga masih dirasa kurang.

Kemudian pertanyaan dari Mahasiswa pada DIPAM 2011 ini menyangkut perpustakaan Polinema yang dirasakan buku-buku diperpus Polinema masih kurang lengkap. Kemudian toilet yang kurang memadai dikampus 2 Polinema ini. Lalu tetntang fasilitas olahraga yang dipakai oleh dosen-dosen saja.

Terlihat Direktur serta Pudir-pudir menjawab pertanyaan dari Mahasiswa terbilang santai. Tentang perpustakaan, Pak Tundung menjawab memang akan ada penambahan buku-buku, tentu saja yang baru dan lengkap. Kemudian beliau menambahkan tentang bangunan diperpus yang dirasa masih kurang memadai, itu akan segera direalisasikan pembangunannya di Kampus 2 Polinema. Toilet juga menjadi permasalahan Mahasiswa, beliau mengungkapkan kebersihan toilet juga kebersihan kita juga, jadi jika kita mengotorinya maka harus membersihkannya.

Fasilitas olahraga di Polinema, seluruhnya milik bersama terutama untuk Mahasiswa. Fasilitas yang digunakan Dosen hanya lapangan Badminton saja, masak Dosen-dosen makai panjat tebing, lapangan Basket, yo gak mungkin kan, imbuh Pudir III ini. Pihak polinema tidak melarang Mahasiswanya untuk memakai fasilitas olahraga, tetapi jika ingin memakai fasilitas seperti lapangan, harus memenuhi prosedur yang telah ditentukan, seperti surat peminjaman. Jika tidak ada surat peminjaman, maka pihak Polinema juga tidak dapat meminjamkan fasilitas tersebut. “Intinya, lapangan ini milik kalian semua, lapangan badminton ini ada 3, silahkan meminjam, tapi harus ada prosedur yang harus diperhatikan”, ujar Pak Tundung menambahkan.

Setelah itu pembahasan masalah pelayanan di Polinema. DIPAM 2010 memaparkan Web Polinema yang kurang menarik, parkiran, poliklinik, serta Laboratorium komputer yang komputernya sering macet ataupun rusak.

Menjawab tentang masalah pelayanan, Bapak Direktur agaknya enggan menjawab masalah Web Polinema tersebut, karena mungkin juga bukan beliau yang membuat. Kemudian salah satu Dosen dari Manajemen Informatika menjawab, “Kita akan membuat Web dimana Mahasiswa bisa melihat nilai ataupun Indeks Prestasi dimana nantinya ada privilage sendiri-sendiri supaya tidak dapat dilihat semua orang terutama Mahasiswa satu dengan lainnya”, ucap Bapak Ahmadi sapaannya.

Kemudian parkiran, telah disampaikan jika ada kehilangan Sepeda Motor maka pihak Polinema akan mengganti rugi sebesar 40%. Tetapi kenyataannya sampai sekarang tidak ada realisasi tersebut. Pak Awan menjelaskan bahwa pihak Polinema akan mengganti sebesar 40% jika memang benar-benar hilang atas ketidaktahuan si pemilik. “Pernah waktu itu ada yang kehilangan sepeda motor, pihak Polinema sudah akan mengganti, tetapi setelah ditelusuri kehilangan motor tersebut memang tidak ada sangkut pautnya dengan Polinema, maka dari itu pihak Polinema tidak memberikan ganti rugi tersebut. Meskipun helm hilang pun akan kami ganti”, tutur Bapak Awan selaku Pudir II ini.

Poliklinik ini memang disediakan dan dibangunkan di Kampus 2 Polinema, karena nantinya Polinema akan pindah semua daari kampus 1 ke kampus 2 ini. Tetapi salah seorang Mahasiswi dari jurusan Teknik Sipil menyayangkan bahwa Poliklinik ini seharusnya juga harus ada di kampus 1 yang rawan terjadi kecelakaan. “Ketika kita ada kecelakaan kerja pada saat membengkel atau praktek, kita selalu menuju tempat Kedokteran UB, seharusnya Polinema juga menyediakan Poliklinik dimana terjadi kecelakaan kerja justru lebih banyak terjadi pada kampus 1 dibanding dengan kampus 2”, ucap Mahasiswi berkerudung ini.

Menanggapi tentang Poliklinik ini, Bapak Tundung angkat bicara. “Memang benar, seharusnya dikampus 1 ada Poliklinik, tetapi toh nantinya semua akan dipindahkan ke kaampus 2. Dan kami pihak Polineema juga bekerja sama dengan Kedokteran UB dengan masalah yang menyangkut kecelakaan kerja seperti itu, kami punya Link disitu. Jadi tidak salah jika Mahasiswa berobat ke Kedokteran UB”. Lalu ditambahkan pula mengenai Dokter yang nantinya akan menjaga Full Time, setiap hari di Polinema, khusunya Dokter Umum dan Dokter Gigi.

Mengenai Akademik, sejak satu bulan yang lalu diadakannya beasiswa yang mungkin besok senin ini kita akan bisa melihat hasilnya, tetu saja jika tidak ada kemoloran. “Apa saja yang dilakukan selama bulan Mei hingga Juni awal ini sampai-sampai pengumuman beasiswa tidak kunjung datang juga”, ucap Mahasiswa ini selaku Ketua Umum DPM.

Menyangkut hubungannya dengan Beasiswa Bapak Wahdi langsung menanggapinya. “Mengapa hasil Beasiswa belum juga turun, karena kita juga harus benar-benar melihat kejujuran dari setiap angket yang ada. Seperti PPA dan BBM, harus ada kebenaran surat yang menyatakan surat tidak mampu, atau juga slip gaji orang tua. Jika memang dari kalian Mahasiswa tidak mendapatkan beasiswa tersebut, nantinya akan ada Beasiswa usulan. Beasiswa usulan ini dapat kita usulkan jika kalian mengusulkan Beasiswa terlebih dahulu, jika kalian tidak mengusulkan Beasiswa ini, bagaimana bisa mengusulkan kalian untuk mendapatkan Beasiswa susulan tersebut”, kata bapak dengan khas Maduranya.

Melihat tentang waktu istirahat di Call center maupun Gedung Pusat yang terhitung cukup lama, Mahasiswi ini terlihat agak menyayangkan. “Mengapa saat semua istirahat tidak ada yang menjaga, pada waktu itu terlihat sudah pukul 14.00 waktunya istirahat selesai, tetapi tulisan istirahat itupun belum juga dipindahkan. Malah ada salah satu pendaftar Maba ini bingung mencari informasi karena terlihat tulisan istirahat”, ujar Mahasiswi tingkat 2 Jurusan Akuntansi tersebut.

Bapak Direktur agak menyangkal terhadap istirahat yang memang terlalu panjang ini. “Saya sudah memberitahu bahwa jika istirahat setidaknya harus ada yang menjaga dibagian penginformasian, ini sudah saya peringatkan”,ujar Pak Tundung sambil menaik turunkan kacamatanya.

Mungkin ini masalah yang cukup banyak dirasakan oleh Mahasiswa Polinema. Tentang Wifi yang jangkauannya tidak terlalu luas. Khusunya Mahasiswa dari kampus 1 yang ingin memanfaatkan fasilitas Wifi di kampus 2 ini sangat diribetkan. Menjawab pertanyaan itu Bapak Ahmadi mengungkapkan, memang ada batasan-batasannya ketika kita telah connect dengan wifi, jika yang memakai 10 orang maka semuanya aan tidak connect. Sekarang kami sudah mengusulkan wifi Free Akses tapi alatnya belum turun, yang nantinya semua Mahasiswa Polinema bisa memakai wifi dengan lancar, maupun Mahasiswa luar Polinema juga akan bisa memakainya”, ucap Pak Ahmadi dengan santai.

SPP Mahasiswa ini tergolong sangat mahal, seorang Mahasiswa bertanya uang tersebut dipakai untuk apa saja, memang pertanyaan ini sangat pribadi untuk Polinema, tetapi Mahasiswa memang ingin tahu untuk apa saja anggaran kita selama ini.

Bapak Wahdi agak sedikit kecewa dengan pertanyaan Mahasiswa tersebut, “Sudahlah, kalian tidak usah tanya-tanya yang seperti itu, tugas kalian hanya menuntut ilmu, Kuliah dengan baik. Kami disini tidak sedikitpun menggunakan uang kalian untuk milik pribadi. Uang yang telah kalian bayarkan melalui Bank tersebut langsung masuk ke PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Uang Mahasiswa semuanya masuk ke PNBP, pihak Polinema tidak mendapat apa-apa hanya mendapat dari Pemerintah saja itupun juga untuk Mahasiswanya”, ujar Pak Wahdi dengan nada menuturi.

Mengenai Sistem Poin di Polinema, Mahasiswa angkatan 2008 dan 2009 kelihatannya tidak setuu dengan diadakannya sistem poin, mungkin karena ketidakjelasan struktur dari sistem poin ini. Bapak Wahdi mengungkapkan, “Pada angkatan tahun 2008, 2009 memang tidak ada sistem poin, karena SKKM nya belum turun. Pada angkatan tahun 2010 SKKM ini sudah turun”, ucap Pudir bagian kemahasiswaan ini.

Kemudian disinggung adanya Mahasiswa yang tidak mengikuti UKM tetapi mengikuti seminar juga mendapatkan poin. Anehnya jika sudah mengikuti seminar sebanyak 2kali maka sudah mendapatkan 2 Poin. 2 poin ini sama dengan Poin yang menjabat sebagai Ketua Umum di organisasi-organisasi. Menanggapi ini salah satu Ketua Umum dari organisasi menyayangkan apa begitu mudahnya mendapatkan poin jika hanya mengikuti 2 kali seminar sudah mendapat 2 poin.

Akhirnya Pak Wahdi mengerti maksud Mahasiswa ini, “Ya kalau tidak mau jadi Ketua Umum tidak usah jadi Ketua Umum sajalah, kalau hanya mengincar kredit poinnya saja. Iya nggak?”, jawab bapak mungil ini. Kemudian salah seorang Mahasiswa lainnya yang menjabat sebagai Ketua Umum ikut angkat bicara menanggapi jawaban Bapak Wahdi, “kita disini sebagai Ketua Umum ikhlas pak, meskipun jika kami tidak mendapatkan poin. Tetapi apa begitu mudahnya bagi seseorang yang hanya mengikuti seminar saja sudah mengantongi 2 poin, sedangkan yang lain harus bekerja di organisasi ini”, tutur Salah satu Ketua Umum ini.

DIPAM yang diadakan oleh BEM Polinema ini adalah jembatan aspirasi bagi Mahasiswa dengan Pimpinan ataupun Dosen yang bersangkutan. Mahasiswa dapat mengutarakan aspirasinya meskipun dengan keterbatasan waktu yang singkat.

Dengan diadakannya DIPAM tahun 2011 ini, diharapkan semua yang ada di Polinema ini dapat bekerjasama dan mendukung demi terwujudnya keinginan bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s