Pekan Mahasiswa Wirausaha (PMW) – “Inisiatif penuh Kreatifitas dan Inovatif demi perkembangan dunia Industri”


This slideshow requires JavaScript.

Politeknik Negeri MalangPMW (Program Mahasiswa Wirausaha) berawal dari inisiatif orang luar negeri yaitu dari ILO dan NOVIC yang menjadikan cikal bakal kemajuan Kewirausahaan di Indonesia yang kemudian berkembang demi meminimalisir pengangguran yang ada di Indonesia. Orang –orang tersebut sebagai pionernya, melihat potensi dari pemuda di Indonesia, mereka ingin merubah mainset orang yang dulunya cenderung jobseeker menjadi jobmaker. Program kewirausahaan yang diprakarsai oleh NOVIC (Rusia) ini dulunya berupa program kewirausahaan. Langkah awalnya membentuk kompetisi bussinesplan yang dilombakan sehingga di Indonesia terpilih 6 politeknik, salah satunya adalah Politeknik Negeri Malang. Polinema waktu itu menang untuk kawasan seluruh Jawa. Sedangkan diluar jawa ada Poli by Combo, poli manado, poli banjarmasin, poli kupang dan poli pontianak. Mekanisme dari program ini sendiri bukan berupa freshmoney, tetapi di aplikasikan dalam bentuk modul dan secara teknisnya kelima politeknik diluar jawa yang sudah terpilih tersebut mengkoordinir seluruh politeknik yang ada di luar jawa, sedangkan untuk polinema sendiri mengkoordinir politeknik yang ada di jawa salah satunya poli UI.

Secara teoritis dalam penerapannya di bangku kuliah politeknik ada dua yaitu KWU (kewirausahaan ) dan QMS (Quality Multi System). Diharapkan dari implementasinya untuk KWU sendiri menghasilkan ETU (Enterpreneurship Training Unit) sedangkan untuk QMS adalah ISO, Internasional Organization Of Standarization, yang seharusnya KCM (Konstruksi Jaminan Mutu).

Yang selanjutnya dapat diharapkan menjadi program pemerintah, teknisnya mengajukan dana ke Dikti bentuknya berupa proposal dan rewardnya berupa uang senilai 500 juta tetapi hanya dikhususkan untuk 6 politeknik terpilih, karena menurut Dikti bagus kemudian rencananya akan dijalankan untuk politeknik-politeknik yang lain. Tetapi ASPI (Asosiasi Politeknik Indonesia) menentang hal tersebut, karena itu masih berupa uji coba sehingga rencana tersebut tidak terealisasi. Seiring ber jalannya waktu, program tersebut semakin berkembang dan dirasakan penting, dan akhirnya diwujudkan juga untuk seluruh Universitas Negeri di Indonesia disamping juga untuk politeknik. Namun ada kendala saat itu karena Universitas Negeri yang ditugaskan untuk menjalankan belum mempunyai program pelaksanaan teknis sehingga berjalan amburadul. Untuk mengatasinya dibentuklah ketua ETU seluruh Indonesia, yang dipilih dari 6 polteknik yang sudah mempunyai program pasti, salah satu ketua yang terpilih adalah Bpk. Suselo Utoyo,ST,.MMT dari polinema.
Sedangkan tujuan utamanya sendiri dari program kewirausahaan ini, agar membentuk usaha mandiri dari kalangan mahasiswa, yaitu untuk mengarahkan mahasiswa dari enterpreneurship menjadi technopreneurship. Sedangkan dalam mentraining mahasiswa agar menjadi pengusaha handal masih sedikit kerepotan karena umumnya mahasiswa masih bermental jobseeker. Dalam realitanya banyak mahasiswa setelah lolos mengajukan proposal dan memperoleh dana dari Dikti implementasi dari kreatifitas yang telah tertuang di dalam proposal tidak dijalankan semaksimal mungkin, dikarenakan setelah mereka lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan di suatu perusahaan mereka meninggalkan begitu saja karyanya, meskipun gaji mereka hanya sekitar 3-4 juta. Apabila dibandingkan dengan hasil dari enterpreneurship nilai tersebut tidak begitu berarti. Namun semuanya itu perlu usaha, investasi bertahap, komitmen, optimistis, SMEA (Supervisi, Motivasi, Evakuasi, Analitis) dan yang paling penting ibadah. Ini adalah tips yang pernah diajarkan oleh trainer dari Tunas Abadi Malang, Ir. Arnold Wariyanto seorang pengusaha sukses yang merintis kariernya mulai dari nol.
Kembali lagi pada sorotan utama kita, sedangkan dalam kalkulasi pendanaannya sendiri setiap politeknik memperoleh dana hibah sebesar 500 juta dari Dikti, pembagian presentasenya 70% untuk mahasiswa dan 30% untuk pengelolaannya. Detailnya 100 juta untuk pelatihan, 50 juta untuk sosialisasi, dan 350 juta untuk mahasiswa.

Untuk hasil karya yang telah dihasilkan oleh mahasiswa Politeknik Negeri Malang sudah cukup banyak, ini merupakan tahun ketiga bagi polinema karena PMW sendiri sudah berjalan mulai tahun 2009. Dan dari database yang ada untuk karya mahasiswa berupa kuliner semakin lama semakin menurun, terlihat dari grafik di gedung ETU yang menjadi tolak ukur Bpk. Suselo Utoyo,ST,.MMT. Inilah harapan yang diinginkan oleh para trainer kewirausahaan, yang menonjol bukan enterpreneur melainkan technopreneur. Bahasa sederhananya yaitu yang dulunya kebanyakan kuliner harus berubah menjadi teknologi yang kreatif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s