“Tidak ada Teknologi Jika Tidak ada SDM”


 

January 2011, Indonesia kedatangan tamu yang dulu juga pernah turut andil dalam mengembangkan Iptek di Indonesia, yang sekarang tinggal di Negara Jerman. Beliau adalah Prof. Bacharuddin Jusuf Habibie, yang biasa dipanggil dengan BJ.Habibie. Belau datang bersama rombongan dari Jerman. Salah satu orang dari rombongan yang terlihat adalah seseorang yang tidak asing lagi dalam dunia seni musik. Orang tersebut adalah Adri Subono. Adri memang sejak tahun ’70-an sampai 98 selalu mendampingi pak Habibie dan (Almarhum) Ibu Ainun kemana pun dan kapanpun. Apalagi semenjak Ibu telah tiada. Mas Adri selalu mendampingi Prof. B.J. Habibie, karena beliau menganggap sudah seperti orang tuanya sendiri.

Di Kota Malang, Pak Habibie meresmikan peluncuran Buku terbaru yang berjudul “Habibie dan Ainun” serta booksign yang bertempat di Gramedia Matos Sabtu, 29 Januari pukul 14.00. Sebelum menuju kesana beliau menjadi pemateri Kuliah Tamu di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada tanggal 29 Januari 2011 pukul 10.15 WIB bertempat di Auditorium Rektorat UIN Malang.

Pada kuliah tamu siang hari ini, yang mengusung tema UIN & Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia Menuju Indonesia Yang Maju & Bermanfaat. Prof. B.J. Habibie menegaskan bahwa Sumber Daya Manusia memiliki Ilmu pengetahuan yang mampu mengendalikan berbagai kondisi.

Pak Habibie juga menerangkan bahwa Teknologi merupakan rangkuman multi disiplin. Ilmu disiplin itu yang memikirkan proses nilai tambah. Disamping itu, orang yang unggul, memiliki produktifitas yang tinggi.

“Tidak ada teknologi kalau tidak ada SDM, dan yang merusak teknologi juga SDM, jika tidak bertaqwa dan berakhlak tinggi”, papar Pak Habibie ketika menegaskan tentang teknologi di Indonesia yang semakin berkembang.

Prof. B.J. Habibie juga mengatakan bahwa, jika dia disuruh memilih antara Imtaq (Iman dan Taqwa) dan Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Sejujurnya beliau memilih Imtaq. Sebab jika Imtaq itu tinggi maka seraya Iptek pun akan terus meningkat dan tidak menjadikan kita serakah atau ingin memiliki segala-galanya.

Pada saat itu Prof. B.J. Habibie memperlihatkan sebuah dokumentasi yang isinya menceritakan tentang perkembangan lima belas tahun yang lalu pada tanggal 10 Agustus 1995 pada saat peluncuran Kapal Terbang Indonesia (N-235 dan N-250). Beliau memaparkan dalam pidatonya,

“Siapa yang membuat konsep paling canggih, tidak lain adalah putra-putri Indonesia sendiri.”

Dan sekarang Sumber daya manusia di Indonesia kini sedikit mengalami kemajuan

Ketika ditanya oleh media tentang perihal mengapa beliau dating ke Indonesia, sedangkan beliau telah bekerja di negeri Jerman. Beliau menjawab,

“ Kalau kami dipanggil oleh Tanah Air maka kami akan kembali ke Tanah Air. Dan ingat pesan dari Pak Karno dulu ‘Amanat Penderitaan Rakyat’, jadi meskipun kita berada nunjauh disana, kalau kita dimintai bantuan pastilah kita akan senang membantu.”

Ketika ditanya mengenai kebebasan dan kemerdekaan beliau menjawab,

“Bahwa keduanya  bisa meningkat bila setiap orang itu memiliki daya saing, merdeka, tidak takut, serta berbudaya iman dan taqwa dari prospek Pembudayaan. Dan kembali lagi bahwa pembudayaan itu dari budaya, agama dan iman. Karena itu sila pertama pada Panca SIla adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi, jika ada seseorang yang tidak percaya pada Tuhan, jangan bilang bahwa agama itu adalah racun. Kita bisa menjadi manusia yang unggul yang bisa dibanggakan dan diandalkan karena kita telah memiliki keyakinan dan kepercayaan.”

Beliau juga menanggapi masalah sekolah yang mahal di Indonesia ini, harusnya memiliki 3 unsur, yaitu Pembudayaan, Pendidikan, dan Lapangan kerja. Pembudayaan, seperti yang telah dijelaskan diatas. Pendidikan itu pencapaian yang menguasai ilmu.

Salah satu hal yang paling menarik adalah jawaban beliau ketika ditanya seorang mahasiswa dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pertanyaan tersebut adalah tentang tips menghilangkan rasa malas serta meningkatkan SDM bangsa Indonesia. Beliau hanya menjawab,

“ Ada lima element cinta, yaitu Murni, Suci, Sejati, Sempurna, dan Abadi. Dan semua itu harus ditanam dalam hati berdasarkan Imtaq dan Iptek tadi.”

Dalam artian seperti ini, cinta yang di maksudkan oleh beliau bukan cinta antara pasangan atau pun cinta antara dua golongan. Tetapi yang dimaksud cinta disini adalah cinta pada Ilmu pengetahuan. Sungguh menakjubkan Bukan?

Kota Malang merupakan salah satu tujuan Prof. BJ. Habibie untuk datang ke Indonesia. Setelah itu beliau meneruskan perjalanannya ke Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta.

 

 

Reporter : Ika Yunita U. & M. Mushonnif

Editor : M. Mushonnif

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s