Masih Saja Menyebut Pemain Naturalisasi


Indonesia gagal menjadi juara piala AFF, rekor menyapu bersih kemenangan di kandang rupanya belum cukup untuk membawa Indonesia menjadi jawara kejuaraan yang dulu disebut piala Tiger ini. Ironisnya yang menjadi jawara justru adalah Malasyia, ya negeri tetangga itu meskipun di Leg kedua berhasil dipecundangi 2-1 oleh Indonesia namun mereka tetap bisa melenggang menjadi juara berkat kemenangan agregat 4-2. Stadion bersejarah GBK pun menjadi tempat timnas Malasyia merayakan gelar juaranya.

Publik Indonesia tak dapat menyembunyikan kekecewaannya, bukan cuma karena gagal juara untuk kesekian kalinya. Namun juga karena Malasyia lah yang menjadi jawaranya, serangkaian konflik dengan Malasyia beberapa tahun ini memang menjadikan pertandingan ini sarat gengsi. Saling ejek antara kedua supporter tidak hanya terjadi di stadion bahkan juga merambah dunia maya, tengoklah di forum seperti Kaskus anda akan jamak menjumpai postingan yang menghina negeri tetangga tersebut.

Tapi ya sudahlah, toh AFF Cup sudah berakhir. Saya lebih tertarik membahas hal lain seputar timnas. Sepakbola seolah menjadi pemersatu bangsa akhir-akhir ini, tua-muda, kaya-miskin, pejabat atau bukan dapat dipersatukan oleh olahraga ini. Buktinya tanpa pamrih masyarakat berlomba-lomba mendukung langsung perjuangan timnas dilapangan, mereka rela mengantri dan dipermainkan oleh ketidakjelasan distribusi tiket. Berbanding terbalik dengan pejabat serta undangan lainnya yang mendapat tiket gratis namun masih saja membawa sanak family diluar kuota tiket yang diberikan.

Selama gelaran Piala AFF berbagai media massa baik cetak maupun elektronik berlomba-lomba menjadikan timnas sebagai headline berita mereka. Di momen seperti ini berita  politik, ekonomi atau apalah yang biasanya menjadi suguhan wajib media seakan menjadi tidak laku, bahkan tayangan infotaimentpun yang biasanya tak pernah kehabisan gossip ikut beralih seolah menjadi tayangan olahraga dengan menyajikan berita utama mengenai timnas. Sungguh hebat sepakbola menghipnotis bangsa ini!!

Mengapa masyarakat bisa begitu antusias sepanjang gelaran pertandingan ini? mungkin karena bangsa ini sudah lelah dengan berbagai himpitan persoalan. Tengok kebelakang kasus Mafia pajak, rekening gendut Polri, kasus Century dll. Seperti sebuah sinetron kasus tersebut selalu berlanjut tanpa penyelesaian hukum yang pasti. Di saat masyarakat jemu inilah timnas menjadi idola baru bagi mereka. Suporter rela merogoh kocek dalam-dalam demi menyaksikan langsung aksi Firman Utina cs. Namun patut diingat, yang dielu-elukan masyarakat adalah Timnasnya, bukan PSSI yang masih banyak persoalan itu. Sayang ada saja yang mendompleng nama timnas yang sedang naik daun ini, politik pencitraan kental disini. Lihat saja undangan makan yang diterima timnas dari salah satu petinggi Parpol, bukankah saat itu Alfred Riedl sedang mengkarantina pemain timnas, keluar hotelpun mereka dilarang.

 

 

Wajah baru di Timnas

Christian Habibi Gonzales dan Irfan Bachdim jadi idola baru di tim nasional, banyak yang bilang mereka ini produk naturalisasi PSSI. Tapi sebenarnya bukan, bahwa Gonzales memang sebelumnya warga Negara Uruguay benar tapi atas inisiatif sendiri Gonzales sudah mengupayakan beralih menjadi WNI, adapun PSSI hanya membantu mempercepat prosesnya. Terlebih berbagai syarat menjadi WNI sebenarnya telah dipenuhi Gonzales, tinggal lebih dari 5 tahun di tanah air serta telah beristrikan WNI Gonzales yang fasih Bahasa Indonesia ini sebetulnya telah sejak lama menyampaikan hasratnya ingin bermain di timnas Indonesia, baru di masa Alfred Riedl inilah hasratnya kesampaian, toh kalau sudah menjadi WNI berarti Gonzales punya hak dan kewajiban untuk membela timnas kan?.

Lain lagi dengan Irfan Bachdim, Ayahnya sebenarnya merupakan mantan pemain timnas Indonesia, namun Ibunya yang berkewarganegaraan Belanda membuatnya bisa memilih ingin menjadi warga Negara mana nantinya ketika menginjak usia 18 tahun. Meskipun besar di Luar negeri tapi sesekali keluarganya kerap membawa Irfan pulang ke Indonesia untuk mengunjungi keluarga Ayahnya dikampung halaman. Dan kini Irfan pun memilih menjadi WNI, jadi jelas Irfan bukan pemain naturalisasi, pun begitu Gonzales. So, masih mau sebut mereka pemain naturalisasi?

 

by Kevin Pami P.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s