Apa Kabar Parkiran Polinema..???


Parkiran adalah tempat yang sangat dibutuhkan dan penting bagi para pengendara kendaraan bermotor untuk menempatkan sementara kendaraannya. Kalau bicara soal parkiran, Malang adalah salah satu kota yang mempunyai lahan parkir yang luas, mulai dari yang legal sampai yang ilegal. Kenapa begitu, saking kreatifnya warga Malang hingga mereka yang tidak mempunyai pekerjaan tetap memanfaatkan lahan umum, seperti emperan toko, trotoar, untuk dijadikan area parkir, meskipun sistem pengelolaannya tanpa ijin dari pihak yang berwenang. Sehingga tidak jarang para pemilik kendaraan bermotor merasa kesal dengan ulah dari tukang parkir tersebut.

Menyinggung masalah sistem pengelolaan area parkir, parkiran di kampus Politeknik Negeri Malang juga tidak luput dari sorotan kita kali ini. Banyak pertanyaan yang timbul di benak kita apabila ditanya soal  parkiran di kampus Biru Kita. Bagaimana sistem pengelolaannya, bagaimana pengkoordinasiaanya, dan lain-lain. Parkiran di Kampus Biru merupakan salah satu bagian penting yang tidak dapat dipisahkan, karena merupakan sarana penunjang kegiatan perkuliahan bagi mahasiswa.  Ada sekitar ±3000 mahasiswa, dan tidak sedikit mahasiswa yang membawa kendaraan ke kampus. Melihat besarnya jumlah kendaraan yang dibawa oleh mahasiswa dan terus meningkatnya jumlah kendaraan sehingga perlu disediakan tempat parkir yang di buat khusus untuk mahasiswa.

Pada tahun 1997 Politeknik Negeri Malang bekerjasama dengan  pihak luar untuk megelola tempat parkir di dalam area kampus, yang saat ini pengelolaannya diatur oleh P.Iwan selaku pihak Ekstern. Pada Awalnya polinema menyerahkan masalah pengelolaan parkir ke bagian URT, semenjak tahun 1997 Polinema merubah sistem yang telah ada. Sehingga kini pengelolaannya dipegang  TU Polinema, oleh P.Kokoh Mulyadi. Dalam perjanjian kerjasamanya kedua belah pihak melakukan kesepakatan secara tertulis didalam Surat Perjanjian Parkir, yang isinya adalah pasal-pasal mengenai kontrak kerja, retribusi parkir, fasilitas parkir, penggantian kendaraan yang hilang dsb.

Pak Iwan selaku Penanggung Jawab pihak parkir, telah bekerjasama selama dua tahun dengan pihak Polinema dalam pengelolaan parkir. Di Polinema sendiri sudah terdapat dua lahan parkir utama, yaitu lahan parkir kampus satu dan lahan parkir kampus dua. Di kampus dua sendiri terdapat dua area parkir untuk mahasiswa, warga polinema biasa menyebutnya parkiran AH dan parkiran AK. Sedangkan di Kampus satu terdapat satu area parkir, untuk tiga jurusan sekaligus.

Dalam operasi parkir  tersebut, kedua pihak memilih  menerapkan sistem karcis, menurut P. Kokoh Mulyadi menggunakan sistem karcis lebih bagus karena polinema merupakan perguruan tinggi bersistem vokasi sehingga materi kuliahnya bukan per-SKS melainkan satu paket, sehingga dengan karcis dirasa lebih aman, dan efisien. Efisien menurut beliau di karenakan apabila menggunakan sistem abonemen seperti di Universitas Brawijaya, dana yang dibutuhkan akan lebih banyak dan lebih beresiko, karena menggunakan stiker sebagai bukti abonemen. Maka dari itu saat mahasiswa banyak yang berharap agar diterapkan sistem abonemen seperti di UB, tidak dapat segera terealisasi, jadi perlu diperhitungkan lagi imbuh beliau. Untuk penerapan sistem karcis, setiap hari pihak parkir selalu mengganti warna kertas karcis dan nomer seri yang terdapat dikarcis. Ini dilakukan untuk menghindari penggandaan kertas dan penipuan. Menurut penuturan P.Iwan, “Kepuasan mahasiswa adalah tujuan dari pihak parkir untuk memberi pelayanan yang baik”. Disamping itu beliau juga bersosialisasi kepada UKM dan mahasiswa untuk saling bekerjasama demi kepuasan teman-teman mahasiswa.  Beliau juga meminta bantuan BEM untuk menyampaikan keinginan dan saran kepada atasan (pihak polinema). Sedangkan untuk biaya parkir sebesar Rp.500,00 (gopek) sudah ditentukan oleh pihak polinema. Biaya parkir tersebut dinilai sudah sesuai dengan kantong mahasiswa.

Meninjau tempat parkir kampus satu, sebenarnya lahan di kampus satu masih hak dari UB. Namun karena masalah marger yang tidak dapat segera ditangani dengan mudah dan membutuhkan proses sehingga memerlukan waktu lama dan dana yang besar, untuk sementara menumpang. Lahan parkir kampus satu sendiri sudah cukup luas, sehingga mahasiswa bisa memarkir kendaraanya dengan baik. Selain luas, penjagaan parkirannya juga cukup aman, seperti halnya jika terdapat kunci sepeda motor yang jatuh ataupun tertinggal di sepedamotor akan disimpan oleh penjaga parkir. “Sejauh ini masih belum ada mahasiswa yang melapor bahwa ia kehilangan kendaraannya”, kata P.Yahya (penjaga parkir kampus 1).

Menurut sebagian mahasiswa, parkiran di polinema sudah cukup baik, mereka tidak perlu antri lama untuk mendapatkan karcis parkir. Akses untuk menuju parkiran cukup luas, sehingga teman-teman yang membawa motor tidak perlu berhimpitan ketika menunggu karcis.Namun

Meskipun Polinema memiliki tempat parkir yang lumayan luas, namun masih dirasa belum cukup untuk menampung semua kendaraan milik mahasiswa. Hal ini terlihat jika pada hari – hari tertentu dimana pada hari tersebut terdapat waktu kuliah yang sama antara satu sama lain. Akibatnya, sepeda motor yang terparkir sampai di luar pagar tempat parkiran.

Tidak semua tempat parkir di kampus Polinema terdapat penutup, dimana penutup ini berguna sebagai atap agar sepeda motor terlindung dari panas matahari dan air ketika hujan.

Ketika kami meminta keterangan dari pihak parkir, ternyata sarana dan prasarana merupakan tanggung jawab Polinema. Pihak parkir tidak berkewajiban untuk menyediakan fasilitas-fasilitas untuk tempat parkir. Selain itu jika kita ingin keluar dari kampus Polinema dan kembali lagi maka kita harus membayar kembali. Ini terjadi apabila kita berada di kawasan kampus satu maupun kampus dua Polinema. Selain itu jika kita berada di kampus dua Polinema dan kita memarkirkan sepeda motor kita di parkiran AH lalu kita akan pindah ke parkiran AK maka kita akan ditarik uang karcis kembali.

Di parkiran Polinema terdapat tempat penitipan helm, namun tempatnya sangatlah terbatas, sehingga tidak semua mahasiswa dapat menitipkan helmnya. Selain itu keadaan sekitar juga kurang memadai. Hal ini nampak jelas dengan terdapat banyak lumut di sekitar tempat parkir, terutama di tempat parkir AH. Keberadaan lumut ini sendiri dapat mengakibatkan jalanan licin pada saat hujan. Kedaan licin ini juga di perburuk dengan belum semua tanah tertutup oleh paving sehingga pada saat hujan, jalan di tempat parkir menjadi becek. Tidak heran ada mahasiswa yang hampir terpeleset atau terjadi selip pada ban sepeda motornya.

Hal lainnya adalah penjagaan tukang parkir ini sendiri hanya terbatas pada sepeda motor saja. Mobil mahasiswa yang di parkirpun tidak ada penjagaan yang terlihat. Meskipun tidak banyak dari mahasiswa yang membawa mobil dibandingkan mahasiswa yang membawa sepeda motor, namun tidak lepas kemungkinan penjaga parkir harus tetap mengawasi mobil mahasiswa yang terparkir. Mungkin hal ini terjadi karena tidak ada kontribusi dari mahasiswa yang membawa mobil, yang beda sekali dengan mahasiswa yang membawa sepeda motor.

Kita semua tentu berharap kendaraan kita akan aman ketika kita menjalani perkuliahan ……….

Jelas itu keinginan dari semua mahasiswa……….

 

by Tim Redaksi Buletin Kompen

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s