Kado Spesial untuk Indonesia di Usia ke 71

20160818001906-aksi-memukau-tontowililiyana-juara-olimpiade-2016-001-nfi

Kolaborasi antara Tantowi dan Liliyana, pasangan bulutangkis ganda campuran asal Indonesia di Olimpiade Rio 2016 melawan pebulutangkis asal Malaysia pada babak final.

Hari ulang tahun memang identik dengan hadiah dan perayaan, begitu pula dengan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) yang menginjak usia 71 tahun. Berbagai perayaan dilakukan guna memperingati hari bersejarah bagi Negera Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus, mulai dari panjat pinang, balap karung, makan krupuk, dan sebagainya. Namun, hadiah yang paling ditunggu datang dari atlet Indonesia yang mengikuti Olimpiade Rio de Janeiro, di Brazil. Atlet bulu tangkis Indonesia pada cabang ganda campuran yaitu Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir berhasil meraih medali emas tepat 3 menit sebelum tanggal 17 Agustus berakhir.

Pasangan yang lebih akrab dengan sebutan Owi dan Butet ini telah mengalahkan pasangan Chan Peng Soon dan Goh Liu Ying asal Malaysia. Meski Liliyana sempat terburu – buru pada set kedua tetapi keduanya kembali berkolaborasi dengan baik. Hingga akhirnya pasangan yang bersama sejak 6 tahun lalu ini berhasil memberikan kado terindah bagi Indonesia. Hanya dalam 2 set pertandingan yang berlangsung selama 45 menit dengan skor 21 – 14 dan 21 – 12. Owi pun langsung melakukan sujud di lapangan bulu tangkis tempatnya bertanding sebagai bentuk syukur atas kemenangan dan kebahagiaannya. Sedangkan Butet menghambur kepelukan pelatihnya, Richard Mainaky di tepi lapangan dengan ekspresi bahagia yang kentara. Kemenangan yang diraih pasangan asal Banyumas dan Medan ini berhasil mengembalikan tradisi emas Indonesia yang sempat terputus pada Olimpiade London 2012 lalu. Hingga akhirnya bendera merah putih berhasil dikibarkan di stadion bulu tangkis Riocentro diiringi lagu Indonesia Raya pada HUT RI yang ke 71.

Mengiringi kemenangan yang diraih keduanya, Owi dan Butet mendapat banyak ucapan selamat dari masyarakat Indonesia melalui sosial media. Tidak terkecuali orang nomer satu di Indonesia yaitu Joko Widodo selaku Presiden Republik Indonesia yang mengucapkan selamat. “Akhirnya, kita dengar Indonesia Raya di Olimpiade Rio 2016. Medali Emas dari Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir. Selamat! –Jkw ,” tutur beliau melalui akun twitternya. Bahkan, Imam Nahrawi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) juga telah menyiapkan uang sejumlah 5 milyar rupiah bagi pasangan ini, yang memang dijanjikan bagi atlet Indonesia yang berhasil meraih medali emas pada Olimpiade Rio kali ini.

tantowi-lilyana-medali-@badmintonupdate-594x355

Pose menggigit medali ala Owi / Butet, usai menerima medali emas pada Olimpiade yang berlangsung setiap empat tahun sekali dan kali ini diselenggarakan di Stadion Riocentro, Brazil

Tak berhenti disitu saja, pada hari Selasa (23/08) nanti, Tantowi dan Liliyana yang diperkirakan tiba di Indonesia pada sore hari akan diarak keliling Jakarta menggunakan bus tingkat terbuka. Dengan rute dari Bandara Soekarno–Hatta, Tangerang, dan berakhir di Istana Negara, Jakarta Pusat yang nantinya akan disambut langsung oleh Presiden Joko Widodo. PB Djarum pun ikut memberikan bonus kepada pasangan ini yang akan diberikan pada 1 September nanti bertepatan dengan welcome dinner finalis Djarum Beasiswa Bulutangkis U–13 dan U–15 . “Hal ini diharapkan dapat dapat menginspirasi pebulutangkis muda yang tengah berjuang menitih karir,” ucap Budi Darmawan selaku Manajer Bhakti Olahraga Djarum Foundation pada Bola.net. Raja Sapta Oktohari selaku Chef de Mission (CdM) kontingen Indonesia di Olimpiade Rio 2016 juga turut berkomentar. “Olimpiade Rio merupakan titik balik kita terhadap olah raga Indonesia sebelum menjadi tuan rumah Asian Games 2018 mendatang. Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi pahlawan dalam olahraga,” jelas Okto pada Bola.net.(Novella)

Upacara Maba Polinema Sambut 71 Indonesia Merdeka

IMG-20160818-WA0012

Pengibaran Bendera Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Provos Pusdikarhanud dalam Upacara Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71.

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia selalu diperingati dengan Upacara Bendera di berbagai tempat, termasuk di Pusat Pendidikan Artileri Pertahanan Udara (Pusdikarhanud), Kota Batu. Upacara Kemerdekaan ke-71 ini dilaksanakan di Lapangan Sudirman Pusdikarhanud, Rabu (17/8) dan dimulai pada pukul 06.50-07.26 WIB yang dipimpin oleh Kapten Arh Andi Komarudin. Upacara ini diikuti oleh Perwira Pertama (Pama) gabungan Pusdikarhanud, Lembaga Pengkajian Teknologi Kodiklat (Lemjiantek), Dohar sista Arhanud, Pasukan Siswa, Organik, Siklap, dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pusdikarhanud, serta Mahasiswa Baru (Maba) Politeknik Negeri Malang (Polinema) 2016/2017 yang melakukan LDK gelombang 2.

Acara ini diawali dengan penghormatan peserta upacara kepada Inspektur Upacara yang dipimpin oleh Komandan Upacara. Kemudian dilanjutkan dengan serangkaian lainnya, seperti pengibaran Bendera Merah Putih yang dikibarkan oleh pengibar bendera dari Provos Pusdikarhanud. Setelah itu mengheningkan cipta untuk mengenang pahlawan yang telah gugur di medan perang, pembacaan teks proklamasi, pembacaan Pembukaan UUD 1945, amanat dari Inspektur upacara dan ditutup dengan doa. Persiapan upacara ini dilakukan dalam waktu singkat, hanya sekitar satu hari sebelum pelaksanaan,  namun tetap berlangsung lancar dan khidmat. “Persiapan upacara sendiri dilakukan berulang kali, mulai dari gladi kotor dan gladi bersih. Setiap gladi yang diadakan selalu melibatkan Maba Polinema” ujar Kapten Arh Krisyanto selaku Perwira Seksi Personel (Pasi Pers).

IMG-20160818-WA0011

Pasukan upacara melakukan penghormatan kepada Inspekur Upacara, Kolonel Arh Mirza Patria Jaya S.E., yang dipimpin oleh Kapten Arh Andi Komarudin selaku Komandan Upacara.

Dalam pidatonya Kolonel Arh Mirza Patria Jaya, S.E., selaku Inspektur Upacara mengajak prajurit dan PNS di lingkungan Tentara Negara Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) untuk mensyukuri kemerdekaan yang dimiliki Indonesia saat ini, dan menjunjung tinggi profesionalisme dalam melindungi Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Prajurit TNI harus dapat bekerja sama dengan Polisi Republik Indonesia (Polri) dan masyarakat, serta tidak bersikap arogan dalam menjalin kebersamaan dengan semua pihak,” ujar Bapak Mirza. Beliau menilai Mahasiswa Polinema cukup tertib dan khidmat dalam mengikuti upacara dan berpesan untuk menjadi pemuda yang intelektual, karena pembangunan di Indonesia tergantung kepada generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa. “Mahasiswa di masa depanlah,  yang akan menjaga dan memajukan negara,” tutur Beliau. Harapan senada juga disampaikan oleh Maba Polinema 2016/2017, Lintang Ayu Alia Ma’arif, Program Studi D4 Manajemen Pemasaran. Dia menyampaikan bahwa mahasiswa saat ini harus memiliki karakter disiplin, rajin dan menjadi lebih baik kedepannya. “Di usia ke-71 tahun ini semoga Indonesia lebih maju dan memiliki prestasi untuk masa depan yang gemilang,” tutup Alia. (Faralina, Annisa Mei, Imas, Rizal)

Berfitrah Setelah Ramadhan, Kenapa Tidak..?

gambar 1

Salah satu kebiasaan yang dilakukan setelah ramadhan usai adalah saling meminta maaf guna melebur dosa yang pernah dilakukan untuk kembali fitrah.

Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana umat Islam diberi kesempatan oleh Allah SWT guna mendekatkan diri kepada-Nya, dengan mensucikan diri dari kebatilan. Didalamnya, kita diperintahkan untuk melakukan ibadah puasa, dengan menghidupkan setiap malam dengan shalat tarawih, memperbanyak bacaan Al-Qur’an dan zikir, meraih malam Lailatul Qodr, hingga mengeluarkan zakat fitrah. Namun, kini bulan yang penuh berkah serta kesucian itu telah usai yang ditutup dengan hari kemenangan yaitu Idul Fitri.

Salah satu manfaat dari bulan suci Ramadhan sendiri adalah membersihkan diri untuk kembali fitrah (suci) seperti bayi yang baru terlahir ke dunia. Tentunya hal itu dilakukan dengan melakukan amalan selama Ramadhan berlangsung selama satu bulan penuh. Namun setelah bulan suci tersebut telah berakhir, apakah fitrah itu masih melekat di dalam diri kita, umat Islam? Atau malah hilang entah kemana.

Dalam realitanya, banyak orang – orang yang hanya menggunakan bulan Ramadhan untuk meningkatkan nilai ibadahnya. Akan tetapi selepas bulan suci tersebut berakhir, ibadahnya kembali seperti semula. Seakan – akan bahwa apa yang didapatkan pada bulan Ramadhan itu cukup, padahal kenyataannya tidak demikian. Salah satu tujuan bulan suci ini adalah membentuk pribadi yang lebih sabar dan dapat menahan hawa nafsu. Namun realitanya, apakah kini sudah mampu untuk lebih mengontrol emosi ketika amarah datang?

gambar 2

Menghormati yang lebih tua merupakan salah satu sikap untuk menjaga fitrah setelah ramadhan usai

Menyikapi hal tersebut, ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar tetap fitrah meski bulan Ramadhan telah berlalu. Yakni, jadilah manusia yang memiliki rasa terbuka terhadap diri sendiri, mau memaafkan kesalahan baik yang dilakukan kepada diri sendiri, maupun orang lain. Apabila memiliki kesalah terhadap orang lain, bersegeralah untuk meminta maaf. Tetapi jika merasa brsalah terhadap diri sendiri, mulailah menerima kenyataan di masa lalu dan gunakan hal tersebut sebagai pembelajaran untuk masa depan yang lebih baik.

Selain itu, juga dapat dilakukan dengan menjaga ketakwaan kepada Allah SWT, seperti mejalankan sholat lima waktu maupun membaca kitab suci umat Islam secara rutin dan menjauhi larangan–Nya. Tidak hanya itu, bersabar atas segala cobaan dan ujian yang diberikan Tuhan YME dengan lebih banyak membaca istighfar. Bersikap sopan dan menghormati sesama, orang yang lebih tua serta menyayangi yang lebih muda sehingga menimbulkan sikap peduli dengan lingkungan sekitar.

Dengan demikian, jika telah melakukan hal diatas, insyaAllah meski bulan Ramadhan berlalu dapat tetap menjadi pribadi yang selalu berfitrah. Sehingga, fitrah dari bulan suci tetapt terjaga hingga sebelas bulan berikutnya dan bertemu kembali dengan Ramadhan. Meski tidak akan mudah berfitrah selama sebelas bulan, namun manfaatnya akan dirasakan dikemudian hari. Dengan bersabar dan tawakal, Allah SWT akan selalu menunjukkan jalan kepada umat–Nya. Wallahualam bisshawab.

(Rifky Prayanta)

Jejepangan dan Komik Lokal ala Comicamp

gambar1

Talkshow bersama animator Wahyu Aditya, membicarakan tentang komik dalam Acara ComicCamp di Taman Krida Budaya, Malang (21/05)

Seni yang membudaya adalah manusia, dari seni pula sebagian orang tidak hanya dapat menyalurkan hobi, namun juga memperoleh profit. Seiring berjalannya waktu, menipisnya batas antar bangsa memadukan keindahan – keindahan seni tersebut. Maka tak salah apabila budaya Indonesia berada dalam satu event dengan budaya Jepang digandrungi banyak kalangan. Budaya yang dimaksud terselip dalam karya anak bangsa, komik.

Komunitas Japan Culture Daisuki mengadakan Comicamp selama dua hari 21 – 22 Mei 2016 di Taman Krida Budaya kota Malang yang menjadi perwujudan tender dari HD’R Comic Cafe. Comicamp adalah event yang bertujuan mengangkat industri kreatif Indonesia khususnya komik dan ilustrasi dan menunjukkannya ke masyarakat luas. Sejumlah tokoh seperti komikus Is Yuniarto, komikus Sweta Kartika, ilustrator Papang Jakfar, dan animator Wahyu Aditya hadir dalam acara tersebut. Selain ragam industri kreatif, Comicamp juga menghadirkan cosplayer tamu yaitu Donna Visca (Indonesia), Kirie (Singapura), Shiraga Yanko (Taiwan), dan Misa Chiang (Taiwan).

gambar2

Cosplayer tamu Comicamp (dari kiri) Kirie, Misa Chiang, dan Shiraga Yanko yang memperagakan tokoh anime dalam Acara ComicCamp

“Komik lokal sebenarnya cukup diminati, contohnya Garudayana karya Is Yuniarto. Sayangnya sebagian masyarakat masih menyepelekan usaha komik ini, padahal profit yang didapat terbilang besar,” ujar Kartika, selaku panitia bazar Comicamp.

“Saya sering mengikuti event, tapi Comicamp ini lebih berkesan karena ada komik lokalnya. Apalagi saya beruntung berfoto bersama Kirie,” komentar Stanley, pengunjung dari Surabaya.

“Jempol..! Padahal event pertama, tapi guest star–nya keren – keren. Kita dari Japan Acoustic Vingerstyle (JAV) Guitar juga bisa sekalian promosi,” kata Kris, salah satu kru yang mengisi stand JAV Guitar pada event ini.

Telah tersedia beberapa stand pula yang dikhususkan untuk komik sendiri. Dengan membeli official merchandise (berupa komik, poster cosplayer, dan photobook), setiap orang berhak mendapatkan dua photoshoot dan satu tanda tangan dari bintang tamu yang ada. Sesi foto bersama dilakukan pukul 16.00 WIB di photobooth yang telah ditentukan. Sebelum sesi foto bersama dimulai, ada talkshow dengan komikus dan cosplayer secara bergantian yang berlangsung di Dome Taman Krida Budaya.

Dari talkshow dijelaskan bahwa tenar tak semudah mengedipkan mata karena selalu ada perjuangan dan rasa cinta pada pekerjaan di balik nama – nama besar. Sebut saja Sweta Kartika yang iseng mengunggah komik Grey dan Jingga setiap Senin dan Kamis ke facebook sejak tahun 2012 hingga 2014. Respon positif membuat Grey dan Jingga hadir dalam wujud buku yang cukup laris. Atau nama Wahyu Aditya yang dilambungkan oleh animasi singkat Dapupu Project, yang kemudian memancing lebih banyak karya dan penghargaan baik di dalam maupun luar negeri.

“Setiap orang pasti pernah mengalami masa sulit, tetapi dengan berbagai cara harus bangkit untuk melanjutkan hidup dan terus berkarya lebih baik lagi,” jelas Sweta Kartika. Papang Jakvar juga mengatakan bahwa Journey of a thousand miles begins with a single steps. “Dahulu, gaya menggambar komik saya tidak seperti ini, tapi hal tersebut akan terus berkembang jika kita gigih berusaha. Tetaplah semangat!” imbuhnya. (Diatama, Galuh Dayinta)

Bangun Karakter dengan Permainan Truth or Dare

(sumber : icebreakerideas.com )

(sumber : icebreakerideas.com )

Permainan truth or dare (ToD) merupakan permainan yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Permainan yang berasal dari budaya barat ini sudah banyak dimainkan oleh kalangan remaja bahkan dewasa di Indonesia. Pemain yang membentuk lingkaran dengan sebuah benda berputar ditengah-tengah pemain (biasanya berupa botol) sebagai acuan. Jika salah satu ujung dari botol mengarah pada salah satu pemain, maka pemain tersebut harus memilih salah satu dari dua kata judul permainan ini. Truth yang berarti jujur, pemain yang memilih kata ini harus menjawab pertanyaan dari pemain lain sesuai dengan keadaan sesungguhnya atau tidak dibuat-buat. Sedangkan dare yang berarti tantangan, pemain harus melakukansuatu hal yang menantang dari pemain lain sekalipun itu hal yang sangat memalukan. Hal tersebut menjadikan truth or darememiliki ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan permainan lain.

Tidak ada batasan umur bagi pemain Truth or dare, dari anak kecil atau setara dengan siswa sekolah dasar hingga dewasa dapat memainkan permainan inidantidakadabatasanjumlah pemain. “Seru banget, dari SMP hingga SMA saya sering melakukan permainan ini, sekarang sudah jarang.Pemain minimal tiga atau empat orang, kalau dua itu terlalu sepi”, ungkap Dea Rahma, Mahasiswi Jurusan Teknik Kimia yang mengaku masih memainkan permainan ini.Selain menyenangkan, truth or dare dapat membuat suasana pertemanan menjadi semakin akrab dengan pengalaman yang tidak terlupakan mengetahui rahasia teman atau melihatnya melakukan hal nyeleneh untuk memenuhi tantangan yang telah diberikan. Tidak hanya itu, truth or dare juga dapat membentuk dan mengetahui suatu karakter yang  dimiliki seseorang.

Permainan Truth or Dare, dimainkan menggunakan botol yang berada ditengah-tengah pemain sebagai acuan dengan jumlah pemain yang tidak dibatasi. (sumber : andi-techno.blogspot.com )

Permainan Truth or Dare, dimainkan menggunakan botol yang berada ditengah-tengah pemain sebagai acuan dengan jumlah pemain yang tidak dibatasi. (sumber : andi-techno.blogspot.com )

Terdapat dua karakter yang dapat dibentuk dari permainan truth or dare dan mungkin dibutuhkan dalam dunia kerja. Sebelum melakukan permainan ini harus dilakukan adanya sebuah perjanjian atau kesepakatan untuk seluruh pemain agar tidak membeberkan rahasia pemain yang memilih kata truth kepada orang lain. Selain kejujuran, peraturan ini mengajarkan kita menjadi orang yang dapat dipercaya untuk menjaga sebuah rahasia. Jika kita tidak bisa menjaga rahasia tersebut maka orang lain akan menganggap kita sebagai orang yang tidak dapat dipercaya. Karakter ini sangat dibutuhkan dalam dunia pekerjaan terutama dalam hal menjaga rahasia perusahaan. Selain itu dalam menerima tantangan kita dituntut untuk lebih berani dalam mencoba hal-hal baru yang menantang. Hal ini juga dibutuhkan dalam dunia pekerjaan terutama bagi wirausaha yang memulai usahanya. Dengan demikian, secara tidak langsung truth or dare mengajarkan kita bagaimana cara untuk menjadi pegawaiyang loyal kepada perusahaannya atau sebagai wirausaha yang memulai usahatanpa ragu dan takut untuk gagal. (Dian Ayu)

Jalur Mandiri, Jalur Terakhir Masuk Polinema

Penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri merupakan pola penerimaan mahasiswa baru melalui ujian tulis, salah satunya dilakukan oleh Politeknik Negeri Malang (Polinema). Pendaftaran jalur ini dibuka sejak tanggal  20 Juni – 29 Juli 2016 sedangkan pelaksanaan ujiannya dilakukan pada hari Sabtu, 30 Juli 2016. Ujian jalur ini dibagi menjadi 2 sesi, yaitu sesi pertama untuk bidang Rekayasa pada pukul 08.30 – 11.00 WIB. Sedangkan sesi kedua untuk bidang Tata Niaga pada pukul 13.00 – 15.30 WIB.

1

Dr.Ir.Tundung Subali Patma, MT. sedang memantau jalannya tes Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur Seleksi Mandiri Polinema di Gedung Teknik Sipil.

Pelaksanan ujian dilakukan di beberapa gedung perkuliahan Polinema seperti gedung AD, AB, AE, AG, Teknik Sipil lantai 2, 3, 5, dan 6. Terdapat sebanyak 111 ruangan yang digunakan pada pelaksanaan bidang Rekayasa sedangkan Tata Niaga hanya menggunakan 54 ruangan. Dimana  satu ruangan berisi 20 peserta, dengan 1 dosen pengawas dari Polinema yang berbeda di setiap sesinya. Materi yang diujikan meliputi matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, fisika, kimia untuk bidang Rekayasa. Sedangkan untuk Tata Niaga meliputi matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, ekonomi, akuntansi.

“Batas keterlambatan kedatangan ketika ujian berlangsung hanya sampai lima belas menit, apabila lebih dari  itu akan diintrogasi terlebih dahulu oleh pengawas ruangan kemudian dilaporkan pada koordinator pengawas dan juga koordinator lokasi,” Jelas Pak Siswoko selaku ketua seksi pelaksana dan pengawas ujian. Beliau juga menjelaskan bahwa lebih dari 4000 calon mahasiswa baru yang mendaftar sedangkan yang mengikuti Ujian masuk sebanyak 2203 peserta untuk bidang rekayasa dan 1065 untuk bidang tata niaga. Dari jumlah peserta yang mengikuti tes tersebut, hanya 900 peserta yang akan diterima dan menjadi mahasiswa Polinema dengan rincian sebanyak 30% dari kuota yang disediakan oleh masing – masing jurusan. Selebihnya, Pak Siswoko menjelaskan bahwa kendala selama ujian berlangsung yaitu terdapat beberapa peserta yang belum mencetak kartu ujian. Akan hal tersebut dapat diatasi dengan menyediakan tempat untuk mencetak kartu ujian di sebelah gedung AW, Polinema.

2

Suasana Tes Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur Seleksi Mandiri Polinema, sabtu (30/07).

“Soal yang diujikan cukup rumit, sebab sebelumnya hanya belajar mengerjakan soal-soal Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), tetapi saya tetap optimis karena motivasi dan dukungan dari orang tua,” ujar Salehudin Ilyas, salah satu peserta ujian bidang Rekayasa dari Pasuruan. Salehudin menambahkan bahwa dia mengambil Jurusan Teknik Mesin karena prospek kerjanya cukup luas. Hal serupa juga diungkapkan oleh Jauharul Muttakim peserta dari Blitar bahwa, peluang Jurusan Akuntansi cukup besar kerena banyak perusahaan yang membutuhkannya. Selain itu ketika berada di Sekolah Menengah Atas (SMA) Jauharul merupakan siswa dari kelas Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sehingga tidak dapat mengambil jurusan teknik. “Perasaan saya sebelum tes biasa saja karena sudah belajar sebelumnya, persiapannya belajar pun secara otodidak karena tidak terlalu berminat mengikuti bimbingan belajar,” imbuh Jauharul.

Berbagai kesan dan harapanpun  juga disampaikan oleh beberapa peserta selama ujian ini berlangsung, salah satunya diungkapkan oleh Jauharul, “Semoga saja saya bisa diterima di Polinema dan dapat menuntut ilmu dengan baik”. Erina Rohma Niluh, peserta asal Bululawang  juga berharap demikian, menurutnya dengan melihat peserta yang lain, dia optimis bisa masuk di Polinema. Siswoko selaku Ketua Seksi Pelaksana berharap agar pelaksanaan ujian selanjutnya lebih tertib dan bagi peserta jangan sampai lupa membawa kartu ujian. (Faralina, Livia, Ma’rifatul)

DDM HMTI, Ajang Aspirasi Mahasiswa TI

Politeknik Negeri Malang (Polinema) merupakan sebuah institusi yang memberikan pendidikan vokasi untuk mahasiswanya. Dimanapun mahasiswa menempuh pendidikan, mereka memiliki kesempatan untuk menyuarakan aspirasinya. Hal tersebut diwujudkan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknologi Informasi (HMTI) yang mengadakan Dialog Dosen Mahasiswa (DDM) di Aula Pertamina, Polinema. Kegiatan ini merupakan sebuah tempat dimana mahasiswa dapat menyalurkan aspirasi maupun pendapatnya mengenai Jurusan TI di Polinema. DDM tahun ini mengangkat tema “Tingkatkan  Komunikasi dan Sampaikan Aspirasi untuk Tercapainya Solusi”, yang dihadiri oleh ketua jurusan beserta jajarannya, beberapa dosen dan lima perwakilan mahasiswa dari setiap kelas di Jurusan TI.

gambar 1

Pembacaan hasil angket Jurusan Teknologi Informasi oleh Sugiono dalam kegiatan Dialog Dosen Mahasiswa di Aula Pertamina Polinema.

Terdapat beberapa bahasan yang diangkat pada DDM kali ini, yang pertama diungkapkan oleh Satrio Yuda, dari Program Studi D4 Teknik Informatika mengenai Studi Ekskursi. Satrio menjelaskan bahwa Studi Ekskursi yang dilakukan kebanyakan tidak berhubungan dengan jurusan itu sendiri. Pak Ridwan selaku Dosen Pembimbing Akademik mengatakan bahwa, dari target 200 peserta, kebanyakan perusahaan yang berbasis Informatics Technology (IT) belum dapat menampung mahasiswa sebanyak itu. Dan beberapa pertimbangan lainnya, seperti lokasi yang sulit untuk dijangkau sehingga dalam pemilihan tempat Studi Ekskursi bagi mahasiswanya, cenderung banyak yang tidak sesuai dengan jurusannya.

Kedua, dari yang terjadi di lapangan khususnya di Laboratorium Praktikum, mahasiswa cenderung menggunakan laptop sendiri daripada harus menggunakan komputer yang tersedia. Hal ini disebabkan karena spesifikasi komputer tidak sesuai dengan kebutuhan, sehingga pihak jurusan akan membuat catatan mengenai mata kuliah yang memerlukan spesifikasi komputer tertentu. Dan menyesuaikan kebutuhan mata kuliah yang sedang berlangsung dengan laboratoriumnya, sehingga proses praktikum dapat berjalan maksimal. Ketiga, mengenai kontrak kuliah yang disepakati sebelum proses belajar mengajar diawal semester, banyak dosen sering ini melanggarnya di akhir semester. Dalam penanganannya terhadap masalah ini, diperlukan sebuah activity control mengenai kontrak kuliah antara dosen dan mahasiswa.

gambar 2

Pembukaan sesi tanya jawab oleh DRS. Siti Romlah selaku Dosen Teknologi Informasi dalam kegiatan DDM HMTI, Selasa (24/05).

Keempat, kejelasan mengenai Kartu Hasil Study (KHS) semester satu dan dua. Bahwa KHS Semester 1 dan 2 prosesnya harus menyerahkan nilai konversi yang dilakukan oleh Kepala Program Studi sebagai akhir pengolahan KHS. Selain itu, membutuhkan waktu dan pemilihan mata kuliah yang diakui dalam jurusan. Kelima, fasilitas umum yang digunakan untuk mengerjakan tugas dirasa kurang, seperti halnya taman yang disamping gedung AF. Maka dosen TI memiliki wacana untuk mempaving dan membuat sebuah tenda yang dapat digunakan mahasiswa untuk mengerjakan tugas. Selain itu, Wifi yang khususnya berada di Jurusan TI ini sering bermasalah. Maka rencana kedepannya adalah membuat ruangan yang tersedia Wireless Fidelity (Wifi) selama 24 jam. Apabila hal tersebut telah terlaksana, diharapkan mahasiswa dapat menggunakan internet dengan sebaik-baiknya. Dan yang terakhir, mengenai Sistem Akademik (SIAKAD) Polinema yang baru dibuat pada tahun 2015 belum berjalan dengan baik.

Namun, menurut Debys Suryani selaku Dosen TI, mengatakan bahwa mahasiswa belum memberikan masukan secara detail. Sebagai contoh bahasan mengenai fasilitas, mahasiswa tidak menyebutkan fasilitas mana yang dirasa mahasiswa kurang. Selain itu, beliau juga menambahkan bahwa DDM yang digunakan sebagai jembatan antara mahasiswa kepada dosen agar aspirasinya tersalurkan hanya berjalan secara dua arah, yaitu mahasiswa bertanya dan dosen menjawab. “Tidak hanya bertanya, mahasiswa lain juga bisa memberikan pendapatnya dari pertanyaan mahasiswa lain. Dalam kegiatan ini, selain memberikan pertanyaan akan lebih baik jika mahasiswa memberikan sebuah solusinya,” pesan Ridwan Rismanto S.ST selaku dosen TI. (Rifky Prayanta, Nisa C, Livia D)